Perubahan menu makanan si Kecil hendaknya disesuaikan dengan usia perkembangannya. Bila saat ini si Kecil telah masuk usia batita, ia memerlukan makanan yang dapat mendukung aktivitas dan perkembangannya. Peralihan tekstur dari makanan lunak ke makanan lebih padat pun dapat mulai Ibu berikan dan saat inilah adalah saat yang tepat untuk mengenalkan menu makanan keluarga pada si Kecil. Namun ada saatnya si Kecil mulai susah makan, dan sering menolak makanan yang biasanya ia sukai. Bila hal ini terjadi beberapa lama, Ibu menjadi khawatir karena asupan yang tidak seimbang akan mengganggu tumbuh kembangnya.

Apa penyebab menolak makanan yang biasa ia sukai? Apakah Ibu memberikan makanan yang berbeda dengan makanan keluarga? Apakah menu makanan si Kecil disajikan dalam tiga jadwal makan? Misalnya saat makan pagi, siang dan malam si Kecil mendapatkan menu yang sama, yaitu sop jagung dan perkedel jagung. Orang dewasa pun dapat bosan dengan menu yang sama, demikian juga dengan si Kecil dapat bosan dengan menu makanan yang ‘itu-itu’ saja. Si Kecil mungkin tidak dapat mengungkapkan kebosanannya dan dan ia pun mengekspresikan dengan cara menolak makanan yang diberikan.

Apa yang dapat Ibu lakukan untuk mengembalikan selera makan si kecil? Pahamilah bahwa penolakan si Kecil pada makanan yang diberikan sebetulnya cukup normal terjadi dan selera makan si Kecil dipengaruhi oleh beberapa kondisi tertentu, seperti saat giginya akan tumbuh, atau si Kecil sedang pilek. Selama Ibu dapat menyediakan makanan sehat yang bervariasi untuk si Kecil setiap hari, dan si Kecil dapat makan pada jadwal makan yang teratur, serta terapkanlah disiplin pada si Kecil untuk dapat menghargai waktu makan, niscaya si Kecil akan mendapat asupan yang cukup untuk tumbuh kembangnya.

Beberapa ahli nutrisi menganjurkan beberapa trik dan tips agar masalah makan si Kecil dapat diatasi:
• Sajikan jenis makanan baru sebanyak 1 sendok untuk dapat dikenalkan pada si Kecil.
• Tawarkan makanan baru tanpa paksaan. Hindari paksaan dan suasana yang tidak menyenangkan saat si Kecil makan.
• Saat Ibu menyiapkan makanan untuk si Kecil, Ibu dapat melibatkan si Kecil, terutama menyiapkan makanan yang menjadi favoritnya.
• Jadilah model yang positif. Anak-anak adalah peniru ulung, sehingga berikanlah contoh yang baik pada si Kecil untuk belajar menyukai makan sayuran.
• Hindari menyajikan makanan yang menjadi favorit anak saja. Bila Ibu hanya menyajikan nuget, pasta, hot dog, dan telur dadar saja setiap hari, maka saat ia menginjak usia lebih besar ia pun akan lebih condong menyukai makanan yang sama.
• Teruslah mencoba. Walau beberapa batita segera menyukai makanan yang disajikan untuknya, beberapa anak tidak akan menyukainya. Mungkin Ibu perlu menyajikan jenis makanan baru 10 kali atau lebih sebelum si Kecil dapat menerimanya.
• Berikanlah makanan yang dapat dipegang si Kecil atau ‘finger foods’, sehingga ia dapat belajar mengatur untuk memasukkan makan ke dalam mulutnya sendiri.
• Sediakan makanan dan minuman dalam piring dan gelas plastik yang ia sukai dan biarkan si Kecil belajar untuk menyendokkan makanannya sendiri.
• Mungkin ada saatnya si Kecil hanya makan beberapa suap pada saat makan pagi. Ibu tidak perlu khawatir, dan memaksanya makan hingga berjam-jam untuk menghabiskan makanannya. Batasi setiap jadwal makan tidak lebih dari 30 menit, dan si Kecil akan merasa lapar pada jadwal makan berikutnya dan makan lebih banyak. Anak-anak akan mengatur selera makannya dengan sendirinya, dan ia akan makan saat lapar dan stop saat kenyang.
• Untuk mengetahui apakah asupan makan si Kecil cukup, timbanglah si Kecil secara teratur. Bila ia memiliki berat dan tinggi badan sesuai usianya dan terlihat pertambahan berat badan, maka Ibu tidak perlu khawatir si Kecil kekurangan asupan makan. Konsultasikan pada dokter bila si Kecil menolak makanan secara berlebihan dan mengakibatkan berat badannya turun atau terlihat adanya gagal tumbuh.